Produksi Kaos yang Mengancam Planet Kita

Dari mana baju kaos Anda berasal? Ini adalah pertanyaan yang cukup sederhana dengan hanya melihat sekilas labelnya. Tapi jawaban sebenarnya jauh lebih kompleks.

 

Produksi kaos bahkan satu kaos aja bergantung pada koordinasi rangkaian rantai pasokan yang saling berhubungan, biasanya mencakup banyak negara. Sistem global ini adalah keajaiban kecerdikan dan logistik manusia.

 

Namun produksi kaos massal ini  juga bisa mengeluarkan jumlah emisi karbon yang cukup banyak, yang dapat berdampak buruk terhadap planet kita. Oleh karena itu, sangat memungkinkan untuk negara-negara besar untuk secara efektif mengalihdayakan emisi mereka ke negara-negara yang kurang kaya melalui “kolonialisme karbon”.

 

Contohnya, merek Kamboja mengekspor 40.000 metrik ton garmen ke Inggris setiap tahunnya (4% dari pakaian Inggris), dan sebagian besar berangkat dari pelabuhan Sihanoukville menuju pelabuhan pengiriman utama Inggris, Felixstowe. Dengan jarak 18.244 km (atau 9.799 mil laut), yang dapat memakan waktu sekitar 40 hari merupakan jarak yang sangat jauh. Tetapi seperti yang saya ungkapkan dalam penelitian terbaru ini, hanyalah langkah pertama dari perjalanan yang lebih panjang.

 

Baju kaos biasa diharapkan menghasilkan 6,75kg karbon selama produksi dan penjualannya. Jejak karbon suatu produk sering diperkirakan dengan menjumlahkan karbon yang dihasilkan selama seluruh proses produksi. Ini termasuk, misalnya, pertumbuhan kapas, pemrosesannya menjadi tekstil, pembuatannya menjadi pakaian, pengangkutan, penjualan eceran, penggunaan, dan pembuangan.

 

Dan ketika suatu negara mengimpor suatu produk, semua emisi ini ditambahkan ke jejak karbon yang diimpor. Kemampuan untuk “menyembunyikan” emisi dalam proses produksi global yang kompleks ini disebut sebagai “celah karbon”, atau kolonialisme karbon, karena memungkinkan negara pengimpor besar untuk memindahkan proses produksi dengan pengeluaran karbon yang sangat intensif.

 

Sekarang semakin diakui bahwa masalah ini mungkin terletak pada akar kegagalan kita dalam mengurangi emisi karbon. Secara total, emisi yang diimpor sekarang merupakan seperempat dari emisi CO₂ global dan untuk mengatasi hal ini harus dilihat sebagai “perbatasan berikutnya” dari kebijakan iklim.

 

Label negara asal tunggal yang dijahitkan ke baju kaos kalian hanyalah ilusi, mencerminkan masalah yang memengaruhi begitu banyak barang yang kita beli dan gunakan setiap hari. Nyatanya, negara asal itu hanyalah salah satu perhentian dalam perjalanan global yang merupakan kutukan bagi produksi berkelanjutan dan hambatan utama dalam perjuangan kita melawan krisis iklim.

 

Pemahaman dan kesadaran terhadap masalah geografi tersembunyi ini adalah langkah pertama untuk mengatasi jejak karbon yang buram dan disalahpahami dari ekonomi global kita serta mendekolonisasi sistem perhitungan lingkungan yang mendukung pencemar terbesar di dunia.