PT Pertamina (Persero) menggandeng perusahaan minyak asal Rusia, Rosneft, untuk membangun kilang minyak baru di Tuban Jawa Timur. Proyek kilang ini ditargetkan rampung terhadap 2027.
PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PT PRPP) udah mengawali penggarapan desain rinci dengan Spanish Tecnicas Reunidas SA (Tecnicas Reunidas). Kick-off meeting untuk membahas desain rinci (Front End Engineering Design/FEED) diadakan secara daring terhadap April lalu dengan Tecnicas Reunidas, menyusul udah tuntasnya desain basic (Basic Engineering Design/BED) terhadap awal tahun 2021.
Tecnicas Reunidas merupakan konsultan pelaksanaan kesibukan desain umum (General Engineering Design/GED). Dalam tahapan FEED, Tecnicas Reunidas meraih keyakinan untuk mengembangkan desain open-art units, sistem off-site dan utilities, pengawasan dan integrasi desain secara keseluruhan, terhitung data desain dari licensor (pihak pemberi lisensi).
Presiden Direktur PT PRPP Kadek Ambara Jaya mengatakan, progres pekerjaan FEED hingga akhir Juni 2021 udah raih aktual 8,96 persen dibanding konsep di angka 3,53 persen dengan Kalibrasi Flow Meter.
“FEED ini merupakan keliru satu milestone mutlak dalam proyek pembangunan kilang GRR Tuban. Dari FEED ini, diharapkan didapatkan deskripsi secara spesifik terhadap peralatan kilang dan infrastruktur yang bakal dibangun di kilang GRR Tuban,” ungkap Kadek dalam siaran pers
Kadek melanjutkan, progres lainnya adalah perihal kesibukan fisik pekerjaan Land Clearing Tahap 3, yang terhadap pertengahan Juni ini udah raih realisasi sekitar 35 persen dari target di angka 28 persen.
Kilang GRR Tuban nantinya dikembangkan dan dikelola oleh PT PRPP, sebagai perusahaan joint venture pada perusahaan minyak dan gas bumi Indonesia PT Pertamina (Persero) dengan Rosneft Singapore Pte Ltd yang merupakan afiliasi perusahaan migas Rosneft asal Rusia.
Proyek kilang ini diharapkan rampung terhadap tahun 2027 dan bisa menjadi jawaban atas isu pemenuhan energi nasional. Apabila tidak tersedia pembangunan kilang baru, maka impor BBM Indonesia diperkirakan bakal meningkat dari 0,53 juta barel per hari (bph) menjadi 1 juta bph atau setara dengan 68 persen keperluan energi nasional.